Ah.. Bokep Korea Siapa mau dengan dia!” timpal Santi sewot.Kami berjalan menuju tokonya. Dia tertawa melihatku sambil berkata..“Makasih bos! Aku sampai terheran-heran melihat agresifitasnya.“Kok nafsu banget, Santi?” tanyaku.Santi bukan seorang yang hebat kissingnya. Gila, ini di Plaza! Ternyata Santi pintar menjaga agar giginya tidak menyentuh penisku. Tubuh Santi agak mengejang. Bukan jeritan mungkin, hanya semacam seruan terkejut. Darahku berdesir. Aku suka bisa melihat bagian dalammu..”
“Bagian dalamku?”
“Ups.. Srr.. Lagi nyari casing. Memijat tengkuknya dan menciumnya. Kira-kira kalau dipaksakan, tetap aku pilih yang pribadinya bagus..” jawab Santi. Tetapi kalau digoda dengan kedipan mata, jarang sekali. Dia melepas penisku. Dia ingin lebih cepat dan keras. Haha..” candanya. Dia tidak menjawab karena masih sibuk menjilati sisa sperma di penisku.Selesai bercinta kilat, kami kembali berpakaian dan keluar.




















