Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh Mba’ Erna itu. Dengan cemas saya menantikan reaksinya. Bokep Montok Mba’ Erna kaget, melihatku mengikuti langkahnya,“ Eeeh… kamu kok ikut masuk juga ??? Rencana mulai kulaksanakan.Saya membongkar beberapa koleksi kaset pornoku, memilih salah satunya yang saya anggap paling bagus, kaset porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu. Mba’ Erna hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mumpung filmnya belum masuk ke bagian intinya. ”, tanya Mba’ Erna kepada saya.Pokoknya bagus deh Mba’ filnya ”, ucapku.Kemudian memberikan pe-tunjuk bagi Mba’ Erna , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya. A, nggak jauh kok Mas ”, terangku.“ Syaratnya apa aja ya Wan kira-kira ? ”, tanya Idris sambil menjabat tanganku.“ Baik nih Dris”, jawabku sambil ter-senyum.“ Oh iya, duduk dulu deh Wan, biar enak kita ngobrolnya ”, ucap Idris mempersilahkanku.Setelah saya duduk di kursi kantornya yang empuk itu,




















