“Uuu… yess”, Imel mengakhiri gelombang kenikmatannya.Sejenak tubuh kami mengejang bersama lalu rebah lunglai di atas sofa kuning. Bokeb Kemudian Imel menciumku mulai dari batang kemaluan terus ke atas hingga bibir kita berdua bertemu dan saling berpagutan dengan permainan lidah yang memabukkan.Sementara itu Imel melepaskan celananya sedangkan aku membuka bra-nya. soalnya kalau aku kangen sama sofaku di Singapur pasti aku ke sini lagi.” Aha! Terlihat peluh membasahi wajahnya yang makin memerah.Sesaat kemudian dia berbisik kepadaku, “Faster… sayang… lebih cepat!” suaranya dibarengi deru nafas yang memburu. Imel rebah menelungkup dengan tubuhku di atasnya. Kuteruskan gerakanku dengan mengerahkan sekuat tenaga mengimbangi gerakan liar Imel. Dengan satu dorongan berikutnya batang kemaluanku sudah masuk secara full dalam liang kenikmatan Imel yang hangat dan tebal. Kutusukkan batang kemaluanku makin dalam ke liang kemaluannya seiring perasaan klimaks yang sudah diambang.




















