Aku terus memandanginya dengan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada. Memang dia mengenakan rok yang cukup pendek, sehingga sebagian pahanya jadi terbuka.Hampir tengah malam aku baru pulang. Bokep Arab Salsa duduk disisi pembaringan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.Aku memeluk pinggangnya, dan menciumi punggungnya yang putih dan halus. Tentu saja aku sangat terkejut dengan keberaniannya yang kuanggap luar biasa ini.“Sendirian aja nih…, Omm..”, sapanya dengan senyuman menggoda.“Eh, iya..”, sahutku agak tergagap.“Perlu teman nggak..?” dia langsung menawarkan diri.Aku tidak bisa langsung menjawab. Aku memeluk tubuhnya dengan erat sehingga Salsa saat itu tidak bisa leluasa menggerak-gerakan lagi tubuhnya. Dia menyebut namanya Salsa.Entah benar atau tidak, aku sendiri tidak peduli.




















