Ibu boleh pulang.”Aku kembali ragu. Bokep Indo Live Jangankan menyentuh, melirik saja ogah-ogahan.Paginya aku terbangun. Setibanya di klub, aku sedikit heran, kenapa sepi sekali. Sungguh malu namun nikmat. Tunggu proses mempercantik diri aku selesai, baru aku layani kamu, ya sayang.”“Tapi sayang…”Belum selesai suamiku bicara, aku membawa bayiku ke kamar, meninggalkan suamiku sendirian di ruang keluarga. Sungguh nanggung rasanya.“Ibu, bagian depannya ibu. Dan, oh Tuhan. Mereka menyanggupi, dan Toni dan Imam akhirnya rutin datang kerumahku ketika suamiku bekerja, untuk memberikan layanan pijat mereka dengan durasi lebih lama. Jangankan menyentuh, melirik saja ogah-ogahan.Paginya aku terbangun. Tangannya kini memijat dadaku. Niatku yang kesekian kali untuk bermesraan kembali dengan suamiku harus pupus lagi.Aku memang belum berusia 30 tahun. Bukan seperti di tempat pijat lainnya yang aku ketahui. Bukan merasa dilecehkan, namun merasa nyaman.Dan bayiku masih terlelap di dipan sebelah. Dan syukurlah, bayiku masih anteng-anteng saja di dipan sebelah.“Ibu, silakan tengkurap.”, kata si pirang.




















