Aku masih mematung. Vidio Sex Itu artinya ia tidak mau diganggu. Aku pun segan memulai cerita. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya.




















