Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon. Agar kejadian kemarin terulang.Jam berapa aku berangkat. Bokep Cina Sudahlah. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Betul-betul keras. Ke bawah lagi: Turun. Kadang-kadang ketimun. Junior berdenyut-denyut. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Lalu pindah ke pangkal paha. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Cuaca ibu kota membuatku panas saat menaiki angkutan umum, bentar lagi sampai di kantor, dan aku berdiri di pintu untuk mendapat angin masuk kedalam angkot, pekerjaan di kantor aku kerjakan di rumah supaya cepat selesai dan tidak menumpuk, sambil ngalamun aku di bentak ama seseorang untuk menutup jendela yang ada disampingku,“Dik.., jangan dibuka lebar. Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut.Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku.




















